post

Diogo Jota Meninggal, PM Portugal: Ini Hari Menyedihkan Bagi Kita

PUSATSCORE– Pemain Tim Nasional Portugal dan Liverpool, Diogo Jota, meninggal pagi ini dalam kecelakaan lalu lintas di A52, Cernadilla, Zamora, Spanyol. Kematian Jota dan keluarganya ditanggapi kesedihan oleh Perdana Menteri Portugal, Luis Montenegro.

“Berita meninggalnya Diogo Jota, seorang atlet yang sangat mengharumkan nama Portugal, dan saudaranya sungguh tak terduga dan tragis. Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarganya. Ini adalah hari yang menyedihkan bagi sepak bola dan olahraga nasional dan internasional,” tulis Luís Montenegro dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari The Portugal News, Kamis (3/7/2025).

Diogo Jota adalah pemain Liverpool, klub yang telah ia bela selama lima musim. Ia masih bermain bersama Jürgen Klopp asal Jerman, dengan 55 pertandingan dan 21 gol yang dicetak.

Penyerang itu, yang merupakan bagian dari trio penyerang bersama Mo Salah, dan di musim-musim lainnya bersama Roberto Firmino dan Sadio Mane, terlibat dalam perebutan satu Kejuaraan Inggris, satu Piala FA, dua Piala Liga, dan satu Piala Super.

Di tim nasional, Jota yang disebut pesepak bola yang punya bakat mencetak gol ini, juga akhirnya menjadi referensi, tidak selalu sebagai starter. Namun, dengan 49 kali pemanggilan dan dua gelar Nations League yang pernah diraihnya.

Kecelakaan di Spanyol itu juga mengakibatkan meninggalnya André Silva, saudara Diogo Jota, pemain sayap yang memperkuat Penafiel, di Liga Kedua sepak bola.

post

Liverpool Abadikan Nomor 20 untuk Hormati Diogo Jota

PUSATSCORE– Liverpool memutuskan untuk mengabadikan nomor punggung 20 di dalam skuadnya. Keputusan ini diambil Liverpool untuk menghormati mendiang Diogo Jota yang meninggal akibat kecelakaan di kawasan Zamora, Kamis (3/7/2025).

Angka 20 terasa begitu lekat dengan Jota di musim 2024/25. Tak cuma memakainya sebagai nomor punggung, tapi Jota juga terlibat dalam mengantarkan The Reds meraih gelar ke-20 di kompetisi kasta tertinggi Inggris.

“Nomor 20 akan diabadikan atas kontribusinya sebagai bagian peraih gelar Liverpool di musim 2024/25, trofi liga ke-20 Liverpoool, dengan aksinya menggetarkan jala gawang dan tembakan di depan Kop untuk mengunci kemenangan dalam derby Merseyside, April 2025 lalu,” begitu pernyataan resmi Liverpool.

1. Gol terakhir Jota ke gawang Everton dekatkan Liverpool ke gelar Premier League

Jota mencetak gol terakhir ke gawang lawan di derby Merseyside kontra Everton, 3 April 2025 lalu. Usai bekerja sama dengan Luis Diaz, Jota menggocek dan menipu sejumlah pemain The Toffees untuk menjebol gawang Jordan Pickford lewat tembakan mendatarnya.

Gol ini melambungkan asa Liverpool buat jadi juara, karena di pekan yang sama, Arsenal terpeleset. Kala itu, Jota begitu emosional merayakan golnya.

2. Jota lega bisa bawa Liverpool juara

Di akhir musim, Jota mengaku pada akhirnya bisa mewujudkan mimpi jadi juara Premier League. Dia bahagia bisa memenuhi cita-citanya mengantarkan sebuah klub meraih titel di kompetisi terbaik dunia.

“Mengakhiri musim dengan gelar, yang sudah saya kejar sekian lama dan di kompetisi terbaik dunia, bagi saya merupakan mimpi sejak kecil. Ini momen yang akan membuat saya tersenyum selamanya,” kata Jota.

3. Kejadian yang mengejutkan

Meninggalnya pria Portugal ini memang mengejutkan banyak pihak. Jota dikenal sebagai pria ramah dan santun, yang membuatnya dihormati lawan pula di luar lapangan.

Bahkan, fans klub rival menyebut Jota sebagai pemain yang tak bisa dibenci lantaran sikapnya yang rendah hati di luar lapangan. Terbukti, saat fans Liverpool melakukan aksi tabur bunga di Anfield, suporter Everton juga hadir demi melakukan hal serupa.

post

Resmi Gabung AC Milan, Samuele Ricci Akan Pakai Nomor 4 di San Siro

PUSAT SCOREAC Milan secara resmi mengumumkan kedatangan gelandang Timnas Italia, Samuele Ricci, dari Torino. Pemain berusia 23 tahun ini akan mengenakan nomor punggung 4 di San Siro mulai musim ini.

Kontrak Ricci berlaku sampai Juni 2029, dengan opsi perpanjangan satu musim hingga 2030. Nilai transfer mencapai sekitar €25 juta. Angka ini terdiri dari €23 juta biaya awal dan €2 juta dalam bentuk bonus tambahan.

Proses transfer selesai setelah Ricci menjalani tes medis dan menandatangani kontrak di markas Milan. Kepada awak media, ia menyatakan, “Saya sangat senang, Forza Milan.”

Ricci Jadi Incaran Sejak Lama

AC Milan telah memantau Ricci selama beberapa tahun terakhir. Selain Rossoneri, beberapa klub besar seperti Manchester City dan Napoli juga sempat menunjukkan minat.

Namun, kesepakatan antara Milan dan Torino baru tercapai pada musim panas ini. Ricci diyakini akan menjadi bagian penting dalam rencana masa depan lini tengah Milan.

Pemain kelahiran Pontedera ini telah berkembang pesat sejak tampil di Serie A. Ia menunjukkan konsistensi dan kecerdasan bermain sebagai gelandang tengah bersama Empoli dan Torino.

Perjalanan Karier Ricci dan Catatan Internasional

Ricci lahir pada 21 Agustus 2001 dan memulai kariernya di akademi Empoli. Ia melakoni debut seniornya pada September 2019. Ricci mencatat 91 penampilan serta tiga gol saat membela klub asal Tuscany tersebut.

Pada Januari 2022, ia dipinjamkan ke Torino dengan kewajiban pembelian total seharga €9,5 juta. Kesepakatan itu juga mencakup bonus dan klausul 10 persen dari penjualan berikutnya. Bersama Torino, Ricci bermain 113 kali dan mencetak empat gol.

Ia menjalani debut di tim nasional Italia pada Juni 2022. Hingga kini, Ricci telah mengoleksi 10 caps di level senior, setelah sebelumnya rutin tampil di berbagai kelompok umur timnas Italia.

Untuk Nonton Live Streaming Bola Bisa Langsung Ke PUSAT SCORE

post

Striker Timnas Italia Ini Siap Gabung MU Asal Digaji Selangit!

PUSAT SCOREManchester United berpeluang besar mendapatkan tanda tangan Moise Kean musim panas ini. Striker Fiorentina itu dikabarkan terbuka untuk pindah ke Old Trafford, meski dengan sejumlah catatan penting.

Setan Merah memang sedang gencar mencari striker baru setelah performa lini serang mereka dinilai kurang memuaskan musim lalu. Pelatih Ruben Amorim membutuhkan penyerang tajam untuk memperkuat skuadnya.

Moise Kean menjadi salah satu nama yang masuk dalam radar MU untuk pos tersebut. Ia dilirik Setan Merah berkat performa mengesankannya bersama Fiorentina.

Menurut laporan Corriere Dello Sport, transfer ini berpeluang terjadi di musim panas ini, tapi bukan tanpa hambatan yang berarti.

Kean Buka Pintu ke Premier League

Laporan menyebutkan Kean menyambut positif minat Manchester United pada dirinya. Ia membuka diri untuk bergabung dengan Setan Merah.

Penyerang berusia 25 tahun ini dikabarkan ingin mengambil tantangan baru di klub besar sekaligus membuktikan diri kembali di Inggris.

Ia pernah membela Everton pada 2019-2021 dengan hasil yang kurang memuaskan. Kini, Kean ingin menebus kegagalan masa lalunya di Premier League.

Tuntutan Gaji yang Selangit

Namun, MU harus berpikir ulang karena Kean mengajukan permintaan gaji yang cukup fantastis.

Sang striker kabarnya meminta gaji sekitar £350 ribu per minggu. Angka ini akan menjadikannya salah satu pemain bergaji tertinggi di skuad.

MU dikabarkan enggan memenuhi tuntutan tersebut, meski mengakui kualitas sang striker. Negosiasi gaji diprediksi akan menjadi titik krusial dalam transfer ini.

Persaingan Ketat dari Timur Tengah

Tak hanya MU, Al-Qadsiah dari Arab Saudi juga dikabarkan tertarik merekrut Kean.

Kehadiran klub tajir asal Arab ini bisa mempersulit posisi MU dalam perburuan sang penyerang.

Untuk Nonton Live Streaming Bola Bisa Langsung Ke PUSAT SCORE

post

Mathew Baker dan Zahaby Gholy Tak Dipanggil TC Timnas U-17, Kenapa?

PUSATSCORE – Timnas Indonesia U-17 telah memanggil 34 pemain untuk mengikuti pemusatan latihan (TC) jelang Piala Dunia U-17 2025. Banyak wajah baru yang bergabung, tetapi ada dua pemain andalan yang tak masuk daftar panggilan.

Mereka adalah Zahaby Gholy dan Mathew Baker, yang menjadi pilar penting di Piala Asia U-17 2025. Pelatih Timnas U-17, Nova Arianto pun angkat suara terkait alasan kenapa keduanya tak dipanggil untuk bergabung di Bali.

1. Gholy dan Baker masih sibuk
Nova menjelaskan, Baker dan Gholy masih banyak agenda. Baker sibuk bersama Melbourne City U-18, sementara Gholy sedang fokus bersama Liga indonesia All Star untuk Piala Presiden 2025.

Bukan berarti mereka dilupakan Nova. Besar kemungkinan, mereka akan menyusul pada Agustus 2025 mendatang.

“Baker masih ada kegiatan bersama klub. Sementara, Gholy akan fokus dulu di Piala Presiden. Kemungkinan awal Agustus akan bergabung,” kata Nova saat dihubungi awak media.

2. Ada sistem promosi dan degradasi

Sebanyak 34 pemain yang dipanggil memang masih skuad bayangan. Nova bakal menyaring pemain potensial, untuk membuat kerangka tim dengan sistem promosi dan degradasi.

“Semua masih ada promosi dan degradasi, karena saya akan melihat kualitas semua pemain, baik dari luar maupun Indonesia. Sebelum kami mengerucutkan tim menuju Piala Dunia, pasti semuanya punya kesempatan yang sama,” ujar Nova.

3. Ada sembilan pemain diaspora baru

Nova juga memanggil sembilan pemain diaspora baru untuk mengikuti TC. Mereka adalah Feike Muller (Willem II Tillburg/Belanda), Eizar Jacob (Sydney FC/Australia), Lionel de Troy (US Citta di Palermo/Italia), dan Floris De Pagter (SC Telstar/Belanda).

Ada pula Azadin Ayoub (Elverum FC/Norwegia), Deston Hoop (SC Telstar/Belanda), dan Nicholas (Rosenberg FK/Norwegia), Noha Pohan S (NAC Breda/Belanda), serta Jona Gaselink (FC Emmen/Belanda). Mereka harus bersaing dengan pemain lokal, karena tidak ada perlakuan khusus dari Nova.

“Siapa yang mau bekerja keras, pemain itulah yang akan tampil di Piala Dunia. Termasuk, kami akan melihat status pemain diaspora ke depannya,” ujar Nova.

post

Tangis Paul Pogba dan Pentingnya Kedewasaan dalam Berkarier

PUSATSCORE , Paul Pogba resmi kembali ke panggung utama ingar bingar sepak bola Eropa. Usai menepi berbulan-bulan, ia akhirnya meneken kontrak 2 tahun dengan AS Monaco pada akhir Juni 2025. Prosesi penandatanganan tersebut menjadi perbincangan karena pemilik nama lengkap Paul Labile Pogba ini tak kuasa menahan rintik air mata menetes di wajahnya. Air mata itu tampak tulus, apalagi setelah belakangan beragam tragedi menghujani hidupnya seakan tiada henti. Mulai dari cedera, kasus doping, hingga kasus hukum dengan saudaranya sendiri. Paul Pogba menjadi pengingat, pesepak bola profesional juga tetap seorang manusia biasa. Tiap keputusan buruk yang ia buat turut menentukan arah kariernya, terlepas sejago apa ia mengolah bola.

1. Masa emas yang hilang karena kasus doping

Karier Paul Pogba sempat terhenti secara dramatis. Pada September 2023, ia dinyatakan positif menggunakan DHEA, zat terlarang untuk meningkatkan kadar testosteron lepas pertandingan Juventus melawan Udinese. Awalnya, Pogba dijatuhi hukuman larangan bermain selama 4 tahun. Beruntung, setelah banding di Court of Arbitration for Sport (CAS), hukumannya dikurangi menjadi 18 bulan. Ia dinyatakan tidak sepenuhnya bersalah karena konsumsi zat tersebut terjadi setelah mengonsumsi suplemen yang diresepkan dokter. Meski begitu, sebagai atlet profesional, ia tetap dianggap lalai.

Tak hanya itu, Pogba menghadapi tekanan besar dari keluarganya sendiri. Ia menjadi korban upaya pemerasan saudara kandungnya, Mathias Pogba, dan sekelompok teman masa kecil mereka. Mereka menuntut uang hingga 13 juta euro atau sekitar Rp248,8 miliar sambil mengancam akan menyebarkan rumor yang dapat merusak reputasinya. Kasus ini menjadi konsumsi publik setelah pelaku mengunggah ancaman di media sosial.

Mathias Pogba memang sudah dinyatakan bersalah oleh pengadilan Paris atas upaya pemerasan dan penculikan terhadap Paul Pogba yang terjadi pada Maret 2022. Ia dijatuhi hukuman 3 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan. Meski begitu, putusan hukum ini tak akan mengembalikan masa emas yang hilang dari perjalanan karier Paul Pogba.

2. Andai Paul Pogba tak salah ambil keputusan

Ketika rentetan kejadian itu terjadi, Paul Pogba sedang berusia 29 tahun. Mestinya, ia sedang berada di puncak karier. Namun, performanya memang sedang dalam tren menurun meski tanpa kasus dan tragedi yang ia alami.

Ia tak lagi menikmati kejayaan usai memenangi Piala Dunia 2018 bersama Timnas Prancis. Banyak pihak mengambinghitamkan Manchester United. Setan Merah yang tampak tak berambisi dinilai menjadi salah satu faktor menurunnya performa sang gelandang. Di sisi lain, badai cedera yang datang silih berganti juga menghambat Pogba dalam menunjukkan kemampuan terbaiknya. Suporter pun balik menuding penampilan Pogba yang angin-anginan bikin MU selalu gagal bersaing.

Paul Pogba sendiri secara tidak langsung turut menyalahkan Manchester United. Dalam sebuah wawancara, seperti dikutip BBC,ketika baru balik gabung Juventus, Pogba mengatakan, “Pergantian pelatih (Manchester United) tiap tahun bikin sulit. Ini salah satu aspek yang berat untukku. Lalu, ada beberapa cedera, tetapi aku pikir ini adalah masalah mental. Bermain, lalu tidak, membuatmu kehilangan ritme. Ini adalah perpaduan antara pelatih, tim, dan posisi yang jadi penghambatku.”

Satu hal yang mungkin ia lupakan adalah mengkritisi keputusan yang ia tempuh sendiri. Ketika sedang dalam puncak performa, jadi bintang utama dalam sebuah proyek jangka panjang dan mewarisi nomor 10 legendaris, ia malah pergi meninggalkan Si Nyonya Tua untuk menerima pinangan Manchester United. Padahal, saat itu Pogba sudah hampir memenangi segalanya bersama Juventus. 

Toh, kala itu, ia memang masih cukup muda. MU berani menebusnya dengan biaya transfer yang sempat memecahkan rekor. Iming-iming gaji fantastis terasa begitu menggiurkan untuk Pogba abaikan begitu saja. Apalagi, ia merasa Manchester adalah lingkungan yang sudah cukup familier baginya. Kepulangannya ini ia labeli sebagai bentuk balas budi.

Sebenarnya, Paul Pogba tak boleh disebut sepenuhnya keliru. Saat itu, ia masih berusia 23 tahun. Secara psikologis, ia tergolong pemain muda. Namun, sebuah keputusan besar terpaksa ia buat. Konsekuensinya sudah cukup ia tanggung selama beberapa tahun. Di balik keputusan ini, yang harus diingat adalah peran dari agen serta keluarga terdekat yang memiliki andil besar dalam langkah karier Pogba. Boleh jadi, besaran komisi yang masuk ke kantong-kantong pribadi oleh mereka yang seharusnya menjadi support system turut bikin Pogba sulit menolak tawaran Manchester United.

3. Babak baru, Ligue 1 dan UCL siapkan panggung Paul Pogba kembali menari

Apa pun yang terjadi, di atas lapangan, Paul Pogba adalah pemain hebat. Secara ketangkasan, tak banyak gelandang sepak bola yang cukup mendekati kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Kini, harusnya ia punya nilai tambah, yaitu kedewasaan.

Ia punya kesempatan menulis babak baru dalam autobiografinya bersama AS Monaco. Uniknya, ini bakal menjadi pengalaman pertama Pogba menjajal kompetisi kasta tertinggi di negaranya sendiri. Apalagi, panggung megah Liga Champions Eropa bakal mempersilakannya kembali menari.

Pertanyaan besarnya jelas: Apakah Paul Pogba masih bisa berada dalam performa terbaik setelah 2 tahun absen dan serangkaian cedera? Tentu penggemar begitu menantikan suguhan kisah comeback inspiratif sampai nanti sang pemain sendiri yang memutuskan menutup kariernya dengan anggun.

post

Kisah di Balik Layar: Lamine Yamal Hampir Tinggalkan Barcelona untuk PSG

PUSAT SCORELamine Yamal kini menjadi salah satu bintang muda paling bersinar di Eropa. Ia bahkan disebut kandidat kuat peraih Ballon d’Or 2025. Namun, di balik gemerlap kariernya bersama Barcelona, tersimpan cerita mengejutkan. Ia nyaris hengkang ke klub lain saat baru berusia 15 tahun.

Menurut laporan Mundo Deportivo, Yamal sempat menerima tawaran menggiurkan dari PSG. Ini terjadi sebelum ia meneken kontrak profesional. Saat itu, PSG mendekati sang pemain saat ia belum debut dan masih dalam pembinaan di akademi La Masia.

Tawaran tersebut diterima oleh Ivan de la Pena, perwakilan Yamal kala itu. Akan tetapi, Xavi Hernandez, yang menjabat sebagai pelatih kepala Barca, dikabarkan turun tangan langsung. Ia berhasil meyakinkan Yamal untuk tetap bertahan di klub.

Peran Besar Xavi dalam Karier Sang Wonderkid

Xavi tidak hanya menolak tawaran 200 juta euro dari klub lain pada tahun 2024. Ia juga memegang peran penting dalam perkembangan awal Yamal. Ia menjanjikan debut tim utama kepada sang pemain. Janji itu ia tepati pada April 2023 saat Barcelona melawan Real Betis.

Debut itu menjadikan Yamal pemain termuda yang tampil untuk Barcelona, yakni pada usia 15 tahun dan 290 hari. Sejak saat itu, ia terus menunjukkan performa luar biasa. Ia pun menjadi andalan dalam skuad utama.

Pada Mei 2025, Yamal menandatangani kontrak baru berdurasi enam tahun bersama Barcelona. Ini mempertegas komitmennya untuk tetap berada di klub yang telah membesarkannya.

PSG Masih Jadi Bayangan dalam Karier Yamal

Meskipun gagal merekrut Yamal, PSG kemungkinan besar akan terus menjadi pesaing utama Barca. Terutama, di pentas Liga Champions dalam beberapa musim ke depan.

Persaingan juga akan berlanjut di tingkat individu. Yamal, yang telah memenangkan Euro 2024 bersama Spanyol dan sejumlah trofi domestik bersama Barcelona, akan bersaing memperebutkan Ballon d’Or 2025. Ia akan bersaing dengan pemain PSG seperti Ousmane Dembele dan Vitinha.

Kini, setelah berbagai tantangan di awal karier, Lamine Yamal menjelma sebagai aset paling berharga Barcelona. Campur tangan Xavi di masa lalu terbukti menjadi salah satu keputusan krusial. Itu menyelamatkan masa depan sang wonderkid.

Untuk Nonton Live Streaming Bola Bisa Langsung Ke PUSAT SCORE

post

Xabi Alonso Temukan Berlian Tak Terasah di Skuad Real Madrid

PUSAT SCORE – Awal era Xabi Alonso di Real Madrid justru ditandai oleh siapa yang tidak bermain. Kylian Mbappe absen di fase grup karena sakit. Sementara itu, Rodrygo hanya sekali menjadi starter dalam empat pertandingan pertama. Ketidakhadiran nama-nama besar ini membuka jalan bagi kejutan menyenangkan di kubu Los Blancos: Gonzalo Garcia.

Pemain akademi berusia 21 tahun itu awalnya dianggap sebagai pengganti sementara. Namun, kini ia telah mengamankan tempatnya di lini depan bersama Vinicius Junior dan Jude Bellingham. Ia mencetak gol kemenangan atas Juventus di babak 16 besar melalui sundulan instingtif. Sundulan itu memanfaatkan umpan akurat dari Trent Alexander-Arnold.

Gol itu menjadi yang ketiga bagi Garcia di turnamen ini. Jumlah itu menyamai nama-nama besar seperti Harry Kane dan Erling Haaland. Padahal, sebelum Club World Cup, ia baru mencatatkan enam penampilan untuk tim utama Real Madrid.

Bukti Eksperimen Alonso Mulai Berbuah Hasil

Garcia adalah simbol keberhasilan eksperimen Alonso dalam turnamen ini. Ia mencetak tiga gol dan satu assist dalam 293 menit. Selain itu, ia menciptakan tiga peluang. Perbandingannya dengan Raul menjadi relevan, apalagi Garcia juga punya fleksibilitas bermain di semua posisi lini depan.

Turnamen ini memang dirancang sebagai wadah eksplorasi taktik dan rotasi pemain. Terutama, bagi tim Eropa yang datang setelah musim panjang. Alonso memanfaatkannya untuk merancang ulang Real Madrid versi dirinya yang berfilosofi menyerang dan menekan tinggi, mirip tim lamanya, Bayer Leverkusen.

Setelah hasil mengecewakan di laga pertama melawan Al Hilal, Madrid tampil lebih agresif saat menghadapi Juventus. Mereka melepaskan 21 tembakan. Mereka hanya gagal mencetak lebih dari satu gol karena aksi impresif kiper lawan, Michele Di Gregorio.

Kedalaman Skuad Madrid Meningkat Jelang Fase Akhir

Kebangkitan Garcia memberikan dimensi baru bagi Real Madrid. Musim lalu, mereka kekurangan variasi di lini serang. Ia melengkapi barisan inti yang sudah mulai terbentuk. Ini termasuk Bellingham dan Vinicius yang tampil aktif menyerang, serta Dean Huijsen yang semakin nyaman sebagai bek pengatur permainan.

Trent Alexander-Arnold juga tampil meyakinkan dengan satu assist. Ini mempertegas statusnya sebagai salah satu rekrutan terbaik musim panas. Kombinasi pemain muda dan senior ini mulai membentuk karakter Madrid era Alonso.

Dengan Manchester City yang telah tersingkir secara mengejutkan, peluang Madrid untuk melangkah jauh di Club World Cup terbuka lebar. Jika penampilan Garcia berlanjut, bukan tidak mungkin Real Madrid telah menemukan bintang masa depannya, tepat saat mereka sangat membutuhkannya.

Untuk Nonton Live Streaming Bola Bisa Langsung Ke PUSAT SCORE

post

Formasi Baru Alonso Untuk Trent Akan Bikin Real Madrid Kesulitan

PUSATSCORE – Saat ini, manajer baru Real Madrid Xabi Alonso tengah melakukan eksperimen, seiring kedatangan Trent Alexander-Arnold di skuad. Namun, ada efek samping dari eksperimen ini.

Dilansir Sport Bible, Alonso melakukan eksperimen formasi, usai Trent tampil buruk dalam laga lawan Al Hilal dan Pachuca di fase grup Piala Dunia Antarklub. Seperti apa eksperimen yang dia lakukan?

1. Mengganti formasi empat bek jadi tiga bek

Dalam laga terakhir grup lawan RB Salzburg, Alonso menggunakan skema dasar 3-4-1-2, alih-alih 4-3-3 yang biasa dipakai Madrid. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi kemampuan Trent.

Hasilnya ciamik. Berkat perubahan formasi ini, Trent tampil lebih gahar dan berkontribusi terhadap kemenangan tim lawan Salzburg. Namun, bukan berarti tak ada efek dari perubahan skema ini.

2. Akan ada dampak bagi beberapa pemain

Perubahan skema dari empat bek jadi tiga bek ini diprediksi akan berdampak bagi beberapa pemain Madrid. Nama-nama macam Vinicius Junior, Kylian Mbappe, Jude Bellingham, hingga Federico Valverde terancam.

Tidak cuma mereka, Arda Guler, Eduardo Camavinga, dan Franco Mastantuono juga akan kesulitan mendapatkan posisi di skema ini. Pun dengan Rodrygo yang harus segera berbenah agar bisa dapat posisi di tim inti.

3. Bisa saja ada pemain yang pergi dari Madrid

Dengan adanya perubahan formasi ini, bukan tidak mungkin juga ada pemain-pemain Madrid yang pergi di musim panas ini. Salah satunya adalah Rodrygo, yang sudah diminati oleh Arsenal.

Arsenal disebut-sebut siap mengangkut Rodyrgo dari Real Madrid. Tidak cuma The Gunners, diprediksi akan banyak pemain-pemain Los Blancos lain yang menyeberang ke klub baru musim depan, jika formasi baru ini diterapkan.

post

Catatan 3 Pertemuan Terakhir Fluminense Kontra Klub Eropa

PUSATSCORE , Fluminense salah satu klub Serie A Brasileiro yang tengah naik daun dalam 3 tahun terakhir. Mereka menjuarai Copa Libertadores 2023 dan Copa Sudamericana 2024. Alhasil, Fluminense menjadi salah satu klub yang terpilih berkompetisi di Piala Dunia Antarklub 2025.

Kiprah Fluminense di turnamen tersebut terbilang impresif. Mereka mencapai perempat final dan tidak menelan kekalahan ketika menghadapi klub-klub Eropa. Fluminense imbang 0-0 kontra Borussia Dortmund pada fase grup dan menang 2-0 atas Inter Milan pada 16 besar.

Dalam sejarahnya, Fluminense hanya sempat bertemu tiga klub Eropa, antara lain: Manchester City, Borussia Dortmund, dan Inter Milan. Lantas, seperti apa rekam jejak mereka kala menghadapi ketiga klub top Eropa tersebut?

1. Fluminense kalah 0-4 dari Manchester City pada final Piala Dunia Antarklub 2023

Fluminense menghadapi Manchester City pada final Piala Dunia Antarklub 2023. Kompetisi tersebut masih menggunakan format lama dengan perwakilan CONMEBOL dan UEFA langsung lolos ke semifinal. Fluminense kala itu berstatus sebagai juara bertahan Copa Libertadores 2023. Mereka diperkuat eks pemain top Eropa, seperti Felipe Melo dan Marcelo.

Sementara itu, Manchester City hadir sebagai juara Liga Champions Eropa (UCL) 2022/2023. The Citizens asuhan Pep Guardiola menurunkan para pemain terbaik mereka, seperti Julian Alvarez, Phil Foden, dan Rodri. Manchester City membuka keunggulan 2-0 atas Fluminense pada babak pertama lewat gol Alvarez kala laga belum berjalan 1 menit dan bunuh diri Nino pada menit ke-27. The Citizens menggandakan skor 4-0 usai Foden menorehkan gol pada menit ke-72 dan Alvarez mencetak brace pada menit ke-88. Skor tersebut bertahan sampai pertandingan selesai. Alhasil, Fluminense harus puas menjadi runner-up Piala Dunia Antarklub 2023.

2. Fluminense menahan imbang Borussia Dortmund 0-0 pada fase grup Piala Dunia Antarklub 2025

Fluminense menjadi salah 1 dari 4 klub Serie A Brasileiro yang terpilih berkompetisi di Piala Dunia Antarklub 2025. Tim asuhan Renato Gaucho itu diperkuat sejumlah pemain berpengalaman, seperti Thiago Silva, Ganso, dan Thiago Santos. Fluminense tergabung dalam Grup F bersama Borussia Dortmund, Mamelodi Sundowns FC, dan Ulsan HD. Mereka langsung bertemu Borussia Dortmund di laga pertama.

Die Borussen asuhan Niko Kovac menurunkan Julian Brandt, Karim Adeyemi, dan Serhou Guirassy di lini depan. Di sisi lain, pelatih Fluminense, Renato Gaucho, mengandalkan Everaldo, Agustin Canobbio, dan Jhon Arias sebagai trio penyerang sejak menit pertama. Meski Dortmund menguasai 55 persen bola, tetapi kesulitan membobol gawang Fluminense. Begitu juga dengan Fluminense yang tidak mampu mencetak gol meski melepas total 14 tembakan selama 90 menit. Alhasil, kedua tim berbagi satu poin setelah bermain imbang 0-0 di laga ini.

3. Fluminense menyingkirkan Inter Milan lewat kemenangan 2-0 pada 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025

Fluminense finis sebagai runner-up Grup F dengan koleksi lima poin. Mereka menghadapi lawan berat, Inter Milan, pada 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025. I Nerazzurri sendiri hadir dengan status runner-up UCL 2024/2025. Renato Gaucho kali ini menurunkan starting line-up berbeda dengan menduetkan German Cano dan Jhon Arias di lini depan bersama Nonato yang bermain sebagai gelandang serang. Di sisi lain, pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, mengandalkan duet Lautaro Martinez dan Marcus Thuram di lini depan dengan Federico Di Marco dan Denzel Dumfries di posisi wing back.

Fluminense langsung membuka keunggulan lewat German Cano ketika pertandingan baru berjalan 3 menit. Inter Milan berupaya mencetak gol balasan, tetapi pertahanan Fluminense cukup solid. Fluminense mampu mengunci kemenangan 2-0 atas Inter Milan setelah Hercules menorehkan gol pada menit 90+3. Fluminense menciptakan sejarah dengan meraih kemenangan pertama atas klub Eropa di Piala Dunia Antarklub 2025.

Kiprah Fluminense kala menghadapi klub-klub Eropa mengalami tren positif setelah kalah 0-4 dari Manchester City pada final Piala Dunia Antarklub 2023. Mereka mampu menahan imbang Borussia Dortmund dan menang atas Inter Milan di Piala Dunia Antarklub 2025. Hebatnya lagi, Fluminense menorehkan clean sheet ketika menghadapi Borussia Dortmund dan Inter Milan. Fluminense akan menghadapi perwakilan AFC, Al Hilal, pada perempat final pada 4 Juli 2025.